4 Petilasan di Desa Tuk Part 1
Desa Tuk di Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon, bukan hanya dikenal sebagai daerah yang subur dan penuh kehidupan, tetapi juga menyimpan jejak sejarah yang sarat makna. Di desa ini terdapat sejumlah petilasan atau tempat bersejarah yang menjadi saksi perjalanan para tokoh penting Cirebon, mulai dari bangsawan, penyebar agama Islam, hingga leluhur yang sangat dihormati.
Keberadaan petilasan-petilasan tersebut tidak sekadar menjadi penanda sejarah, tetapi juga menyatu dengan kehidupan masyarakat melalui mitos, nilai spiritual, dan tradisi yang masih dijaga hingga hari ini. Setiap petilasan memiliki kisah unik, mulai dari sumber mata air yang tidak pernah kering, tragedi yang melahirkan tradisi keagamaan, hingga balong keramat yang tetap dirawat secara turun-temurun.
Melalui artikel ini, mari kita menelusuri jejak Petilasan Pangeran Windu Aji, Pangeran Jakatawa, Nyimas Pakungwati, dan Balong Keramat Pangeran Mancur Jaya di Desa Tuk, untuk memahami bagaimana sejarah, budaya, dan spiritualitas berpadu menjadi warisan yang berharga bagi masyarakat Cirebon.

Petilasan Pangeran Windu Aji merupakan salah satu situs keramat di Desa Tuk, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon. Situs ini dipercaya telah berusia ratusan tahun, ditandai dengan bangunan dari susunan bata merah kuno tanpa perekat yang diperkirakan berasal dari abad ke-17.
Di dalam kompleks petilasan terdapat makam Pangeran Windu Aji serta dua makam pengawalnya. Pintu masuk makam dibuat rendah sebagai simbol penghormatan kepada leluhur. Pada dinding bangunan ditemukan relief berbentuk bunga dan buah manggis yang memiliki filosofi kejujuran.
Selain makam, terdapat sebuah “belik” atau sumber mata air alami yang konon dulunya digunakan sebagai tempat pemandian kuda Pangeran Windu Aji. Air dari belik ini dipercaya memiliki karomah, tidak pernah kering meski musim kemarau, dan sering dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai keperluan, termasuk pengobatan.
Di area petilasan juga tumbuh pohon semboja yang sudah berusia ratusan tahun, menambah suasana sakral situs tersebut.
Petilasan Pangeran Windu Aji menyimpan mitos tentang belik atau sumber mata air yang tidak pernah kering, bahkan di musim kemarau panjang. Air dari belik tersebut diyakini memiliki karomah dan sering dimanfaatkan masyarakat untuk pengobatan. Selain itu, pintu makam yang rendah mengajarkan makna penghormatan kepada leluhur, sementara relief berbentuk manggis melambangkan kejujuran. Hingga kini, masyarakat masih menjaga kesakralan situs ini sekaligus mengambil air beliknya untuk kebutuhan tertentu.
Petilasan Pangeran Jakatawa merupakan salah satu situs bersejarah yang berada di wilayah Desa Tuk, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon. Tempat ini dipercaya sebagai jejak perjalanan salah satu tokoh penting Kesultanan Cirebon dalam penyebaran agama Islam sekaligus usaha mencari sumber kehidupan bagi masyarakat pada masa lampau.
Riwayat Pangeran Jakatawa
Pangeran Jakatawa dikenal sebagai salah satu putra bangsawan Keraton Cirebon yang turut berperan penting pada abad ke-15, terutama pada masa pemerintahan Sultan Sepuh I. Bersama Pangeran Matangajimat dan Pangeran Mancur Jaya, beliau mendapat amanah dari Sultan untuk menyebarkan agama Islam ke pelosok wilayah sekaligus mencari sumber mata air sebagai solusi mengatasi kekeringan panjang yang melanda Cirebon saat itu.
Perjalanan Mencari Sumber Air
Dalam pengembaraannya, Pangeran Jakatawa turut serta dalam peristiwa penemuan sumber mata air di Desa Tuk. Menurut cerita turun-temurun, saat para pangeran beristirahat di bawah pohon besar, mereka mendapatkan petunjuk gaib untuk mengetukkan kayu ke tanah. Dari ketukan tersebut memancar air yang melimpah hingga dapat menghidupi masyarakat sekitar. Tempat itu kemudian dikenal dengan nama Tuk, yang menjadi cikal bakal Desa Tuk.
Nilai Sejarah dan Spiritualitas
Petilasan Pangeran Jakatawa bukan hanya menjadi penanda jejak sejarah, tetapi juga memiliki nilai spiritual tinggi. Warga sekitar meyakini bahwa beliau adalah tokoh yang teguh memperjuangkan penyebaran Islam sekaligus sosok yang peduli pada kebutuhan masyarakat. Karena itu, petilasan ini sering diziarahi masyarakat sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.
Pelestarian Hingga Kini
Keberadaan petilasan ini masih terjaga dengan baik berkat peran masyarakat dan para juru kunci setempat. Tidak hanya menjadi tempat ziarah, situs ini juga berfungsi sebagai pengingat pentingnya perjuangan para leluhur dalam memperjuangkan agama, budaya, serta kesejahteraan rakyat.
Petilasan Pangeran Jakatawa erat kaitannya dengan kisah asal-usul nama Desa Tuk. Konon, dari kayu yang diketukkan ke tanah atas petunjuk gaib, keluarlah air yang menyelamatkan masyarakat dari kekeringan. Dari situlah lahir keyakinan bahwa tempat ini memiliki nilai spiritual tinggi. Sampai sekarang, petilasan ini masih diziarahi oleh warga sebagai bentuk penghormatan kepada sosok Pangeran Jakatawa yang tidak hanya menyebarkan agama Islam, tetapi juga peduli terhadap kesejahteraan rakyat.

Petilasan Nyimas Pakungwati terletak di Desa Tuk, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon. Petilasan ini menjadi tanda bahwa dahulu Nyimas Pakungwati pernah singgah di desa tersebut.
Nyimas Pakungwati adalah putri Pangeran Cakrabuana (Mbah Kuwu), tokoh awal pendiri Cirebon. Beliau kemudian dinikahi oleh Kanjeng Sunan Gunung Jati, penyebar Islam di Cirebon dan pendiri Kesultanan Cirebon. Namanya sangat penting dalam sejarah, bahkan diabadikan menjadi nama keraton pertama di Cirebon, yaitu Keraton Pakungwati, yang kini dikenal sebagai Keraton Kesepuhan.
Dalam sejarah Cirebon, Nyimas Pakungwati juga dikisahkan wafat dalam peristiwa tragedi Menjangan Wulung. Tragedi ini berkaitan dengan awal mula munculnya tradisi Adzan Pitu di Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Pada masa itu, tujuh muadzin melantunkan adzan bersama-sama untuk mengusir pengaruh jahat yang ditimbulkan oleh Menjangan Wulung. Tradisi Adzan Pitu ini masih dilestarikan hingga sekarang pada setiap salat Jumat di masjid tersebut.
Petilasan ini hingga kini masih dirawat oleh masyarakat sebagai bentuk penghormatan dan pelestarian warisan leluhur.
Petilasan Nyimas Pakungwati menjadi penanda perjalanan salah satu tokoh perempuan penting dalam sejarah Cirebon. Mitos yang melekat padanya adalah wafatnya beliau dalam tragedi Menjangan Wulung, yang kemudian melahirkan tradisi Adzan Pitu di Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Adzan oleh tujuh muadzin ini awalnya dilakukan untuk mengusir pengaruh jahat, namun hingga kini tetap dilestarikan setiap salat Jumat. Dengan demikian, petilasan ini tidak hanya bernilai historis, tetapi juga mengikat tradisi keagamaan yang masih berjalan hingga hari ini.

Balong Tuk atau Balong Keramat Pangeran Mancur Jaya merupakan salah satu situs peninggalan bersejarah di Desa Tuk, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon.
Menurut cerita masyarakat, pada masa dahulu wilayah ini pernah mengalami kekeringan panjang. Para bangsawan Cirebon dari Kesultanan di antaranya Pangeran Mancur Jaya melakukan ikhtiar dengan doa dan usaha untuk mencari sumber air. Dalam proses itu, terdapat sebuah peristiwa ketika kayu yang ditancapkan ke tanah tiba-tiba mengeluarkan air. Dari situlah muncul mata air yang hingga kini tetap mengalir, dikenal sebagai Balong Keramat Pangeran Mancur Jaya.
Air dari balong ini diyakini memiliki nilai karomah dan keberkahan. Bahkan sampai sekarang, setiap tanggal 19 Maulid diadakan tradisi khusus, salah satunya ritual memandikan atau membersihkan balong sebagai bentuk penghormatan dan pelestarian warisan leluhur.
Balong Tuk memiliki mitos tentang munculnya sumber air setelah kayu ditancapkan oleh Pangeran Mancur Jaya. Sejak saat itu, air balong dipercaya membawa keberkahan dan terus mengalir hingga kini. Tradisi yang masih dijaga sampai sekarang adalah ritual pembersihan balong setiap tanggal 19 Maulid, yang dilakukan sebagai bentuk penghormatan sekaligus pelestarian warisan leluhur. Bagi masyarakat, balong ini bukan sekadar sumber air, tetapi juga simbol kebersamaan dan keberkahan yang diwariskan turun-temurun.
Petilasan-petilasan di Desa Tuk bukan hanya menyimpan kisah sejarah, melainkan juga kaya akan mitos dan tradisi yang hingga kini tetap dijaga. Dari belik yang tak pernah kering, asal-usul Desa Tuk, tragedi Menjangan Wulung dengan tradisi Adzan Pitu, hingga keberkahan Balong Tuk—semua menjadi warisan berharga yang menunjukkan betapa eratnya hubungan antara sejarah, spiritualitas, dan budaya masyarakat Cirebon.
Dari kisah Pangeran Windu Aji, Pangeran Jakatawa, Nyimas Pakungwati, hingga Balong Keramat Pangeran Mancur Jaya, kita dapat melihat betapa Desa Tuk menyimpan sejarah yang begitu kaya. Setiap petilasan menghadirkan cerita yang bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang nilai spiritual, tradisi, dan kearifan lokal yang masih hidup hingga hari ini.
Namun, perjalanan kita belum selesai. Masih ada jejak peninggalan lain yang tak kalah menarik untuk ditelusuri. Pada bagian berikutnya, kita akan mengupas kisah dari petilasan Jagayuda, Ki Bagus, Babalayar, dan Siraga—empat situs yang juga menyimpan cerita penuh makna dan dipercaya memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan sejarah Cirebon.
Tetap ikuti penelusuran berikutnya, karena setiap petilasan selalu membawa kita lebih dekat pada warisan leluhur yang sarat akan hikmah.